Komunitas Cloud Indonesia

Cloud tidak membutuhkan SysAdmin, DBA dan Infrastructure Architect

Penulis :   |   May 7, 2012

image

source: dilbert.com

PaaS dan SaaS memungkinkan kita untuk lebih produktif dengan meng-outsource beberapa aspek operational yang dibutuhkan. Apakah kita tidak membutuhkan sysadmin, dba dan Infrastructure architect lagi di era cloud?

Apa bedanya IaaS dan Colocated Datacenter Service

Salah satu perbedaan mendasar antara IaaS dan arrangement Colocated Datacenter Service adalah pergeseran dari model pengeluaran kapital yang besar di muka ke model pengeluaran operasional yang teramortisasi sesuai jangka waktu pemakaian. Perubahan ini memungkinkan perusahaan berskala startup untuk mengakses kapasitas komputasi yang sebelumnya tidak memungkinkan. Kita sekarang sudah tidak bermain dengan hanya 1-2 server lagi, tapi puluhan atau ratusan walau mungkin dalam waktu yang singkat (sesuai kebutuhan).

Automasi

Untuk memiliki agilitas yang dibutuhkan untuk menambah server secara cepat dari 2 ke 20, tidak dimungkinkan lagi untuk seorang SysAdmin mengandalkan aktivitas manual. SysAdmin lebih dituntut lagi untuk memiliki development skills yang kuat untuk bisa meng-automasi kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan.

Design for failure

Dengan skala yang besar, probabilitas untuk sebuah komponen akan jatuh juga lebih besar. Untuk menghadapi itu, Developer dituntut untuk memiliki penguasaan operasional yang kuat untuk menciptakan system yang tahan banting. Things will break and we need the system to be designed with this assumption in mind. Seorang software arsitek juga perlu menguasai kemampuan infrastruktur untuk menciptakan sistem yang bisa dengan mudah dimonitor, provision dan decommission.

Developer oriented Database

Aplikasi “berskala internet” membutuhkan kapasitas, kecepatan dan kemampuan yang lebih besar. Kebutuhan ini diiringi oleh pergesaran penggunaan relational database ke alternative database lainnya seperti document, distributed, schemaless databases dsb (NoSQL). Yang kita temukan di database engine seperti ini adalah berkurangnya penggunaan SQL. SQL script tergeser oleh Javascript, Pig, Hive, Lua dan script lainnya yang cenderung dipakai oleh developers. Namun pada saat yang bersaamaan, kebutuhan untuk mengetahui good database practices seperti bagaimana mengatur indexing, partitioning, backup strategy dsb tidak akan punah.

Sys Admin, DBA, Infrastructure Architect dan DevOps

Kebutuhan untuk seorang Subject Matter Expert tidak akan menghilang. Untuk menciptakan solusi yang optimal, kita tidak akan pernah bisa menghindari untuk memikirkan soal detail-detailnya. Pada saat yang bersamaan peran-peran tradisional yang kita sudah sangat familiar akan layaknya berubah dengan tuntutan teknologi. SysAdmin tidak lagi bisa mengandalkan cara manual untuk provisioning dan decomissioning servers dan policies. DBA tidak lagi bisa berlindung dibalik infrastruktur big iron dan harus memikirkan horizontal scalability. Dev harus assume bahwa things will fail. Software Architect harus bisa mendayagunakan platform di bawahnya semaksimal mungkin.

Hal-hal ini membawa kita pada konsep DevOps dimana kita harus mengakui peran-peran di atas akan semakin bertindihan. Setidaknya setiap peran tersebut tidak akan lagi sama seperti apa yang kita kenal sekarang.

Apakah tanggung jawab posisi anda berubah dengan adanya Cloud? Silahkan tinggalkan komen di bawah.

  1. ACCI – Asosiasi Cloud Computing Indonesia
  2. Lowongan .NET Developer
  3. Lowongan Android Developer
  4. Lowongan Java Developer
  5. Jakarta Cloud Computing Meetup 09.2016

Penulis :

Ronald Widha is a passionate programmer and believes in occam razor. Ronald hosts an IT podcast in Bahasa Indonesia at temanmacet.com.Currently working as a Solution Architect in a US company based out of Dubai, United Arab Emirates focusing on emerging technologies. A cloud enthusiast and a member of Microsoft Windows Azure Insider.

Komentar

4 thoughts on “Cloud tidak membutuhkan SysAdmin, DBA dan Infrastructure Architect
    1. Ronald Widha Post author

      Affan, terkadang sebuah terminologi itu diciptakan untuk sekedar pemasyarakatan cara berpikir.

      Reply
  1. Antoxic

    Permasyarakatan cara berpikir? Propaganda maksudnya?.. Microsoft sekaliii style-nya.. #bhihihik

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *