Komunitas Cloud Indonesia

Google App Engine Gratis? Ya, tetapi …

Penulis :   |   July 16, 2012

Saat ini, fenomena Cloud Computing sudah menjadi semacam buzzword didunia teknologi informasi. Banyak sekali praktisi IT yang tertarik untuk mempelajari hal ini, bahkan sampai penerapan implementasinya. Tak jarang pula beberapa pebisnis sudah mulai melirik Cloud Computing untuk dipakai di perusahaan mereka. Hal ini dapat dimengerti akibat kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi Cloud ini.

Tetapi, sebelum kita memakai Cloud Computing,  sudahkah kita memahaminya dengan lebih jelas? Jangan sampai kita terjebak pada euforia cloud computing (dalam hal ini adalah menggunakan PaaS Google App Engine) tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kita lakukan. Hal ini khususnya yang berhubungan dengan batasan-batasan sumber daya yang diberikan oleh google app engine dan biaya-biaya yang mungkin timbul dikemudian hari. Biaya? Bukankah google app engine adalah sebuah layanan cloud yang gratis? Ya, anda benar. Google app engine memang sebuah layanan yang gratis, HINGGA BATAS-BATAS TERTENTU. Bagaimanapun juga, Google adalah sebuah perusahaan swasta yang mencari keuntungan. Setelah mencapai batas tertentu, GAE akan menjadi sebuah layanan berbayar, jadi anda harus membayar sejmlah uang kepada Google jika ingin terus menggunakan layanan tersebut.

Menggunakan GAE berarti tergantung sepenuhnya dengan Google

Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai ketergantungan ini. Dengan menggunakan GAE, maka aplikasi cloud anda akan berada didalam servernya Google. Jika terjadi masalah pada server ini (jaringan server, lebih tepatnya), maka aplikasi anda tidak akan dapat digunakan (down). Google bisa saja tidak menghubungi anda mengenai masalah ini, sehingga anda dan seluruh user anda akan berada dalam kebingungan mengapa aplikasinya menjadi macet. Masalah lain adalah ketika anda melanggar ToS (Term of Service) yang telah ditentukan oleh Google. Terminasi account hampir pasti akan anda alami dan ini berarti seluruh klien aplikasi anda akan kehilangan akses pula. Ada juga aspek-aspek teknis yang menimbulkan ketergantungan “permanen” seperti penggunaan API spesifik kepunyaan Google ataupun data storage yang menggunakan BigTable. Semuanya ini nampak begitu menarik dan useful bagi developer, tetapi begitu anda ingin porting aplikasi anda ke platform lain maka masalah besar langsung menghadang. Ini berarti begitu anda mengembangkan aplikasi berbasis GAE dengan segala API yang dimilikinya, selamanya aplikasi itu terikat dengan platform GAE dan porting hampir mustahil untuk dilakukan. Itulah alasan mengapa penulis memberikan kata “permanen” diatas.

Selain itu, data-data perusahaan anda (dan mungkin data perusahaan klien anda) akan tersimpan didalam jaringan server Google. Adalah  benar, memang Google memiliki kebijakan privacy yang bagus, tetapi jika anda tergolong ketat untuk masalah privacy, hal ini penting untuk diketahui dan direnungkan. Tidak semua data “pantas” untuk diletakkan pada infrastruktur “orang lain”, khususnya dengan pertimbangan (sekali lagi)  privacy dan keamanan data.

Kuota

Google App Engine memberikan kuota resources yang cukup besar untuk digunakan. Tetapi untuk penggunaan yang serius, aplikasi anda dapat dengan cepat “memakan” kuota yang tersedia. Sebagaimana layanan cloud pada umumnya, ada banyak parameter resources yang memiliki counter. Ketika counter ini mencapai batas maksimum, maka Google akan mulai mengirimkan tagihan kepada anda. Resources ini contohnya adalah Datastore, XMPP, Mail API, Channel API, Code & Static Data, jumlah index datastore yang diijinkan, serta deployment counter.

Batasan resources ini akan direset setiap hari. Untuk aplikasi gratis, ketika kuota tercapai, maka resource tersebut tidak dapat digunakan hingga keesokan harinya. Sedangkan untuk aplikasi berbayar, resource yang over-kuota tetap dapat digunakan dengan “memakan” budget yang tersedia hingga habis. Khusus untuk database resource, jumlah kuota yang telah terpakai akan terus bertambah atau berkurang (sesuai pemakaian, tentunya) dan tidak akan direset.

Beberapa resources yang tersedia didalam GAE dan batasan-batasan untuk versi free-nya adalah sebagai berikut:

  • BLOB data sebesar 5GB. BLOB adalah Binary Large Object Data, seperti gambar, suara atau multimedia yang tersimpan didalam database.
  • Channel API adalah sebuah mekanisme komunikasi antara program yang running di GAE dengan javascript yang running di browser pengguna. Channel API dapat dianggap sebagai sebuah mekanisme AJAX. Ada banyak model batasan Channel API ini:
    • Channel API Call: 657.000
    • Channel yang dapat dibuat: 100
  • CODE & STATIC  DATA sebesar 1GB. C&S ini adalah kuota yang terpakai untuk file-file program dan data static dari aplikasi anda.
  • Convertion API merupakan sebuah fitur yang menarik, dimana anda bisa melakukan konversi file dokumen ke format lain secara synchronous ataupun asynchronous. Untuk versi gratis, terdapat batasan 100x call per hari ke convertion API.
  • STORED DATA: 1 GB (maksimum index: 200)
  • Mail merupakan fitur GAE yang dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan email. Batasan yang diberikan adalah 100x call per hari ke Mail API.

 Larangan didalam Google App Engine

 

GAE menerapkan sebuah policy / kebijakan yang cukup ketat atas aplikasi-aplikasi yang dapat berjalan didalam platform ini. Hal ini tentu dapat dimengerti sebagai bagian dari sebuah understanding para developer yang mengembangan program di lingkungan multiuser.

 

Beberapa hal yang patut untuk diingat adalah:

  • Aplikasi anda tidak boleh menggunakan sesuatu yang dapat dianggap melanggar hak cipta orang lain.
  • Dilarang melakukan aktifitas yang dianggap ilegal.
  • Jangan melakukan pencurian identitas user (phising) ataupun menawarkan sebuah skema piramid.
  • Dilarang menyebarkan trojan, virus ataupun program berbahaya lainnya.
  • Tidak boleh menggunakan layanan GAE (Mail API) untuk mengirimkan spam ataupun iklan via email yang dapat dianggap spam.
  1. Jakarta Cloud Computing Meetup 09.2016
  2. Big Data dengan Google Cloud
  3. Cloud Computing dan Big Data : Sebuah Kombinasi Ideal
  4. Keynote CEO Oracle mengenai Transformasi Cloud Computing
  5. Cloud Computing sebagai Skill yang Paling Dicari di Dunia Kerja

Penulis :

Seorang Technology Enthusiast. Bekerja sebagai Senior Software Developer di sebuah perusahaan Software House. Founder group facebook "GEEK FACTOR", sebuah komunitas bagi para pecinta teknologi (http://www.facebook.com/groups/nerd.factor).

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *