Komunitas Cloud Indonesia

Memulai Membangun Private Cloud (1)

Penulis :   |   June 6, 2012

Teman saya baru-baru ini mengeluhkan tentang rutinitas pekerjaannya yang mungkin tidak asing bagi anda:

1. Ada request untuk deployment aplikasi
2. Menyiapkan server baru
3. Melakukan instalasi Operating System (aduh, belum nge-patch OS-nya)
4. Install application server dan komponen-komponen lainnya, seperti HTTP server, dan lain-lain (yang ini ternyata butuh di-patch juga)
5. Masih ada yang tertinggal, karena ada database yang perlu diinstall. Setelah ini, aplikasi baru bisa siap di-install.
6. Kembali ke nomor 1.

Rutinitas pekerjaan yang berulang-ulang tentu saja menjemukan buat sebagian orang. Mungkin juga anda mempunyai jenis pekerjaan yang sama seperti teman saya. Entah titelnya sebagai IT Administrator, IT Support, IT Helpdesk, IT Engineer, bahkan sampai ke IT Manager sekalipun.

Kalau tidak ingin terjebak dalam siklus tersebut, pilihannya ada 2: memutuskan untuk menaruh semua aplikasi kita di dalam public cloud, atau membuat private cloud sendiri.

Bagi beberapa diantara kita yang mendirikan startup, public cloud jelas merupakan pilihan. Dropbox, GoogleApps, Cloudfogger, dan lainnya, mungkin anda  bisa menyebutkan jauh lebih banyak dibanding saya. Sekarang pertanyaannya, kapankah kita memerlukan private cloud?

Dalam sebuah artikel disini, dijelaskan bahwa jika organisasi anda memiliki revenue lebih besar dari USD$ 1 Billion (sekitar Rp 9.4 triliun), maka private cloud akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan public cloud. Mungkin terdengar terlalu besar, namun kalau kita coba lihat list revenue di beberapa perusahaan global, nilainya jauh berkali lipat diatas angka USD 1 Billion. Di Indonesia pun listnya tidak sedikit. Mungkin kita bisa menilik pada beberapa bank, asuransi, telekomunikasi dan beberapa industri lainnya. So, kalau anda bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut, saatnya meyakinkan ke bos anda bahwa private cloud merupakan salah satu solusi untuk menekan cost perusahaan.

Setelah anda memutuskan untuk menggunakan private cloud di perusahaan anda (dan bagi sebagian yang berhasil untuk menyakinkan bosnya, SELAMAT), langkah berikutnya adalah mengetahui apa saja yang bisa membantu anda untuk membangun private cloud di perusahaan anda. Disini kita akan membahas beberapa produk yang bisa membantu anda membangun private cloud starts from zero. Pada seri pertama ini, kita akan bahas salah satu produk dari IBM, yaitu IBM Workload Deployer. Pada Seri selanjutnya kita akan coba explore produk-produk lain.

Dalam portofolio Websphere-nya, IBM menyediakan sebuah appliance yang bernama IBM Workload Deployer. Appliance ini merupakan generasi lanjutan dari Websphere Cloudburst Appliance. Seperti appliance lainnya, kita akan mendapatkan sebuah produk yang siap digunakan dengan effort yang minim.

Hampir semua platform virtualisasi didukung oleh IBM Workload Deployer, diantaranya VMware (x86 platform), PowerVM (Power 6 and Power 7 platform) and z/VM (System z platform). Begitu juga dengan Operating System yang di-support meliputi SuSe Linux, RHEL, AIX, zVM.

Bagi anda yang penasaran bagaimana detail skenario step by step memulai membangun private cloud, anda dapat melihat dalam referensi Redbooks berikut:
http://www.redbooks.ibm.com/abstracts/sg247967.html

Artikel ini adalah seri ke-1 dari seri artikel: Memulai Membangun Private Cloud.

    Tidak ditemukan artikel yang terkait

Deni Lukmanul Hakim saat ini bekerja di IBM sebagai Technology Specialist. Ia adalah lulusan dari Fakultas Ilmu Komputer UI. Bisa dihubungi via email: deni.lukman (at) gmail.com

Komentar

One thought on “Memulai Membangun Private Cloud (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *