Komunitas Cloud Indonesia

Mengenal Google App Engine

Penulis :   |   July 6, 2012

Dalam dunia cloud computing, ada tiga istilah penting yang harus dipahami sebelum mulai mempelajari teknologi ini. Ketiga istilah tersebut adalah Infrastructure as a Service (IaaS), Platform as a Service (PaaS) and Software as a Service (SaaS).

Iaas secara sederhana dapat dimengerti sebagai peralatan penunjang yang menyediakan layanan cloud computing pada sebuah jaringan, seperti server-server, virtual machine (VM), dan network equipment. PaaS adalah tentang kebutuhan hardware dan sistem operasi dari cloud computing tersebut, berbeda dengan IaaS yang memiliki keleluasaan pilihan lebih banyak. Yang terakhir adalah SaaS, yang dapat dipahami sebagai software yang berjalan pada sistem cloud, seperti web-hosted application, email dan model-model aplikasi bisnis lainnya. Sebetulnya, ketiga konsep diatas tidak bersifat paten, artinya ada banyak konsep lain yang dapat digolongkan kedalam layanan cloud computing, seperti Storage as a Service (StaaS), Monitoring as a Service (MaaS), Communicator as a Service (UaaS) dan lain sebagainya. Beberapa pihak kemudian menyebut layanan dalam cloud itu sebagai XaaS, dimana “X” dapat diganti dengan bentuk layanan yang diimplentasikan.

Google APP Engine (GAE) adalah salah satu contoh PaaS. GAE menyediakan sekumpulan API (Application Programming Interface) lengkap dalam bentuk SDK yang bisa didownload secara bebas. Selain itu, produk GAE sendiri juga bebas untuk digunakan alias gratis. Tentu ada batasan-batasan sumber daya (resources) yang diberikan pada versi gratisnya, tetapi dalam beberapa hal tertentu resources yang tersedia ini sudah mencukupi. Jika anda membutuhkan tambahan sumber daya, ada biaya yang akan ditagihkan. Jenis sumber daya yang dibatasi didalam GAE adalah pada storage, bandwidth dan waktu operasional dari aplikasi tersebut (dihitung per jam). Saat ini, untuk menggunakan GAE, anda dapat menggunakan dua macam bahasa pemrograman, yaitu JAVA dan PHYTON. Teknologi Java yang umum dipakai di GAE adalah Servlet dan JSP. Di artikel berikutnya, fokus pembahasan ada pada GAE yang berbasis Java.

Keunggulan utama dari GAE antara lain adalah sebagai berikut:

  • Persistent storage, yang dapat diakses dengan query. Persistent storage dalam GAE ada tiga macam: App Engine DataStorage (schemaless), Google Cloud SQL dan Google Cloud Storage.
  • Dynamic web Serving.
  • Dapat secara otomatis skalabilitasnya dan load balancing.
  • Untuk para developer dalam mensimulasikan GAE pada local machine mereka sehingga tidak harus selalu online.
  • Memiliki task queue yang memungkinkan aktifitas kerja diluar scope dari sebuah web request.

Selain itu, setiap aplikasi yang berjalan didalam GAE akan di-sandboxing, dimana lingkungannya terkunci untuk menghindari gangguan pada aplikasi GAE lainnya. Batasan ini juga memungkinan App Engine untuk mendistribusikan web request dari sebuah aplikasi ke server-server yang lain. Sistem sandbox mengunci aplikasi kita pada dalam sebuah lingkungannya sendiri dan tidak terikat pada hardware, sistem operasi dan lokasi dari server dimana aplikasi tersebut akan dijalankan.

Pada artikel berikutnya, kami akan membahas Term Of Service dari GAE ini.

  1. Jakarta Cloud Computing Meetup 09.2016
  2. Big Data dengan Google Cloud
  3. Cloud Computing dan Big Data : Sebuah Kombinasi Ideal
  4. Keynote CEO Oracle mengenai Transformasi Cloud Computing
  5. Cloud Computing sebagai Skill yang Paling Dicari di Dunia Kerja

Penulis :

Seorang Technology Enthusiast. Bekerja sebagai Senior Software Developer di sebuah perusahaan Software House. Founder group facebook "GEEK FACTOR", sebuah komunitas bagi para pecinta teknologi (http://www.facebook.com/groups/nerd.factor).

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *