Komunitas Cloud Indonesia

Portabilitas: Dilema Platform-as-a-service

Penulis :   |   May 9, 2012

Apprenda, sebuah perusahaan yang menawarkan alternative Platform-as-a-service untuk .Net, bekerja sama dengan sebuah digital agency, Epipheo Studios dalam sebuah video marketing. Video ini bukan hanya menjelaskan value proposition dari Aprenda tapi juga  memperlihatkan perbedaan PaaS dan IaaS dan tantangan yang dimiliki PaaS secara gamblang. Salah satu tantangan yang dibahas di video di atas adalah portabilitas untuk memigrasi solusi PaaS antara private dan public cloud (dan antar cloud provider).

The front runner

Saat ini, portabilitas cloud bisa didapatkan melalui pengadopsian platform yang memiliki common API.OpenStack, misalnya menawarkan standarisasi API untuk sumberdaya compute, storage, identity maupun infrastruktur. OpenStack diadopsi oleh cloud provider publik seperti Rackspace dan implementasi private cloud di dalam NASA.

The others

Sayangnya, majoritas cloud provider besar lainnya masih tertinggal dalam mengadopsi sebuah platform terbuka yang memiliki kompatibilitas yang tinggi antara satu provider dengan provider lainnya.

Microsoft masih memfokuskan portabilitias di level infrastruktur melalui teknology virtualisasinya Hyper-V yang dilengkapi oleh sistem monitor seperti System Center.  Kembali lagi di level infrastruktur, Amazon hanya memiliki fitur impor VM images ke  Amazon EC2 tapi masih belum memiliki fitur expor yang tidak memungkinkan untuk “membawa” solusi dengan mudah dari Amazon ke cloud provider lain. Sedangkan, Support portabilitas di Salesforce Heroku masih terbatas untuk sekedar development.

Pada saat ini, Microsoft, Amazon, Salesforce belum memiliki jawaban untuk mengatasi tantangan portabilitas data di level PaaS-nya.

Solusi Jangka Pendek

Ruang hampa yang ditinggalkan oleh para public cloud provider terkemuka inilah yang membuat perusahaan seperti Apprenda menawarkan solusi PaaS alternatif.

Satu solusi serupa lagi adalah AppScale yang mengadopsi API dari Google App Engine sehingga memungkinkan penggunanya untuk menjalankan aplikasi Google App Engine di infrastruktur Amazon EC2 maupun Eucalyptus private cloud

Standar vs Inovasi

Di industri yang masih sangat dinamis ini, setiap provider masih memfokuskan diri untuk berinovasi secara cepat. Sebaliknya, standar selalu condong untuk menahan inovasi karena akan mendorong ke lowest common denominator dari setiap semua pelayanan yang ada. Bila semua provider memiliki fitur dan kemampuan yang sama akhirnya semua pelayanan menjadi komoditi dan tidak ada perbedaan yang berarti.

Apakah kamu perduli dengan portabilitas? Bagaimana kamu mengatasi tantangan ini?
Share pengalaman kamu di komen di bawah.

  1. Lowongan .NET Developer
  2. Lowongan Android Developer
  3. Lowongan Java Developer
  4. Jakarta Cloud Computing Meetup 09.2016
  5. Big Data dengan Google Cloud

Penulis :

Ronald Widha is a passionate programmer and believes in occam razor. Ronald hosts an IT podcast in Bahasa Indonesia at temanmacet.com.Currently working as a Solution Architect in a US company based out of Dubai, United Arab Emirates focusing on emerging technologies. A cloud enthusiast and a member of Microsoft Windows Azure Insider.

Komentar

2 thoughts on “Portabilitas: Dilema Platform-as-a-service
  1. rotyyu

    Pernah baca entah di mana, katanya Canonical sedang membuat sebuah usaha utk mempermudah pengguna Amazon berpindah ke OpenStack. Dan bukankah misalnya Eucalyptus punya API yg compatible dengan Amazon?

    Reply
  2. eRQee

    Portabilitas itu kan bahasa customer. Bahasa vendor, itu churn. Masalahnya vendor merasa belum terlalu menguntungkan mbikin portabilitas platform, kalo ujung2nya inovasi dia di urusan portabilitas ini malah memudahkan orang lain utk pindah ke kompetitor. Wajar saja Amazon bertindak demikian. Menekan seminimal churn rate customer dia.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *